Cause Of Love

love-cartoons-8

 Senang dan bahagia. Itulah yang dirasakan cewek belia yang akrab dipanggil Tari. Bagaimana tidak, dia berhasil naik ke kelas II SMA. Yaa walaupun dengan nilai yang gak tinggi dan gak rendah pokoknya tengah-tengah dech. Cewek yang berkulit sawo matang ini pun bertambah bahagia saat dia tahu kalau ternyata sahabatnya dari kelas satu rupanya masih sekelas sama dia. Hanya kata bahagia dech yang menyelimutinya saat ini walaupun sudah beberapa hari dia menjalani harinya sebagai siswi SMA kelas II.

            Itulah dia yang beranama lengkap Dian Aftary. Seorang gadis yang masih berfikiran sangat polos sampai-sampai kebanyakan teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan anak kecil. Seperti biasanya dia menjalani kehidupannya seperti anak sekolah pada umumnya. Pahit, susah, sedih, senang dan bahagia telah dirasakannya selama sepuluh tahun terakhir. jadi tidak heranlah kepribadiannya yang seperti itu tidak berubah walaupun sekolahnya saat  ini sangat berbeda dengan sekolah lainnya. Ada yang bilang banyak susahnya namun ada juga yang bilang fine-fine aja tuch. Entahlah hanya mereka yang bersekolah di sekolah itu aja yang tahu termasuk si Tari.

            Umur dapat bertambah namun kelakuan belum tentu bukan…!yach itulah kalimat yang cocok ditujukan buat Tari. Anak kecil berseragam putih-abu-abu. Lucu bukan!!! Tapi biar bagaimanapun Tari itu seorang wanita dan tidak bisa memungkiri kodratnya sebagai manusia yang dapat merasakan indahnya jatuh cinta. Jatuh cinta….inilah yang dirasakannya. Apalagi cowok yang disukainya itu adalah teman sekelasnya. Namanya Ardi Prahamdi tapi lebih sering dipanggil Ardi. Ardi sendiri pun seorang cowok yang agak pemalu dan penampilannya pun menandakan kalau dia seorang cowok yang sangat memerhatikan kebersihan.

            Seperti biasanya proses belajar-mengajar pun dimulai dengan  berdoa terlebih dahulu. Disiplin….yaa itulah sekolah Tari sangat memerhatikan kedisiplinan. Terlihat seorang gadis mungil yang sedang serius berdoa. Siapa lagi kalau bukan Tari. Dia kan paling mungil dalam kelasnya.

            “Eh Ri aku punya gossip baru lo tentang ketua kelas gitu” Ucap seorang cewek disamping Tari yang tak lain adalah Rati yang merupakan ratu gossip di sekolahannya tapi kebanyakan teman-temannya lebih memanggilnya bigos.

            “Gosip apa Ra…”Ucap Tari dengan wajah polosnya

            “Bech….masa kamu gak tahu gitu!!!Ada cinlok lho di kelas kita ini.”

            “Beneran…kamu gak bohong kan n siapa orangnya”tanyanya penasaran

“Kalau kamu gak tahu yach gak jadi dech ngegosipnya. Lagian aku juga udah janji sama ketua kelas tuch kalau gak bakal ngebocorin rahasianya.”Balas Rati

Tari pun memikirkan perkataan Rati barusan. Tentang cinlok di kelasnya. Tari berfikir apakah rasa sukanya ke Ardi dapat kesampaian. Apakah Ardi dapat membalas perasaan sukanya dan apakah dia dapat merasakan cinlok dengan Ardi.

            “Wei…ko’ bengong non…?Ucap Sari yang kebetulan duduk di bagian belakang Tari.

            “Enggak….enggak ko’….!!!”Ucapnya

            “Aku tahu ko’ apa yang membuat kamu bengong…pasti lagi mikirin Ardi yach.”

            Ucap Rati dengan tiba-tiba

            “Ih…sembarangan aja.”balas Tari

            Wajar ajalah kalau hampir semua teman dekat Tari mengetahui hal itu. Tari kan seorang cewek yang masih berfikiran polos, pantas saja kalau dia suka sama seseorang pasti dia akan memberitahukan hal itu kepada teman-temannya.

Tak terasa pelajaran pertama berakhir. Karena di sekolah ini menggunakan system moving class jadi wajar sajalah kalau setiap pergantian pelajaran suasana sekolah terlihat ramai.

            Jantung Tari pun berdetak kencang karena tanpa sadar dia berjalan di samping Ardi. Ardi yang cuek menganggap hal itu biasa-biasa aja. Tari pun memperlambat langkahnya karena saat dia melirik ke belakang, ternyata telah ada si Bigos yang siap dengan segala gossip-gosip barunya.

            “Cieeee….Tari. Lagi PDKT nich”Ucap Rati dengan sedikit mengejek

            “Kamu jangan bilang gitu dong…nanti kalau dia dengar bisa heboh satu kelas.”

            “Iya…tenang aja dech pokoknya. Aku kan teman kamu yang paling baik, murah hati, tidak sombong, dan berjiwa penggosip.”ucap Rati

            “Kamu Ra ada-ada aja. Tapi janji yach kejadian itu jagan dibilangin ke siapa-siapa termasuk Sari, Imma dan Sila.”Balasnya

            “Beres dech pokoknya”

Mereka berduapun berjalan ke ruangan Bahasa Inggris. Seperti kebanyakan cowok-cowok lainnya. Ardi pun duduk di bagian belakang sedangkan Tari yach duduk di depan.

Rati pun duduk disamping Tari. Yach apalagi maksudnya kalau bukan ngebahas kejadian tadi.

            “Ri…ri….Lihat tuch si Ardi kayak orang kesambet gitu. Dari tadi yang dikerja cuma diam aja. Hibur dia dong!”ucap Rati dengan nada yang merayu

            “Enggak ah..”Jawab Tari

            “Eh Rati…sudah dulu dong ngegosipnya. Kita kan lagi serius nich belajar.”Ucap Imma

            “Iya Bu”Balas Rati

Tari yang duduk disamping Rati tidak begitu memerhatikan kelakuan teman-temannya itu. Yang dia pikir hanyalah tentang Ardi. Beribu-ribu pertanyaan yang ada di benaknya hingga bunyi lonceng pun menyadarkannya dari lamunannya.

            “Hore….istirahat.” Ucap Imma dengan nada yang keras.

            “Biassa aja dong.”Ucap seorang cowok yang dari raut wajahnya terlihat galak

            “Biar kita…!”Kata Imma dengan spontan

Selama istirahat sampai pulang, pikiran Tari pun tidak karuan. Yang dipikir hanya  Ardi bahkan saat menaiki angkutan umum yang dikerja hanya melamun hingga salah seorang temannya menegurnya.

            Langkah Tari ke rumahnya pun terasa berat. Dia sendiri tidak tahu mengapa hal ini terjadi kepada dirinya hingga dia pun tiba ke rumahnya. Tanpa pikir panjang dia meletakkan tas ranselnya di meja belajarnya dan langsung baring ke tempat tidurnya.

            “Apa yach yang terjadi sama Ardi. Ko’ dari tadi dia diam terus yach. Apa dia ada masalah.?”ucapnya dalam hati

Tari pun tidak sadar kalau dari tadi sepupu dan adik-adiknya memerhatikannya dari tadi. Dan tiba-tiba ‘Bruk’ sebuah bantal guling menimpa kepalanya.

            “Aduh…”Ucap Tari dengan sedikit kesakitan

            “Makanya Bu jangan ngelamun” Serentak kalimat itu diucapkan oleh sepupu dan adik-adiknya lalu meninggalkan Tari sendirian dalam kamar

            Sekejap kemudian Tari pun berfikir kalau perasaannya ke Ardi hanya berupa kagum. Yach kagum. Itulah kata yang difikirkannya. Menurutnya siapa saja kan boleh kagum kepada seseorang termasuk kepada si Ardi. Apalagi Ardi kan terkenal sebagai seorang cowok yang rajin shalat dan pastinya tidak merokok. Pikiran Tari pun terasa jernih dan seakan tidak mempunyai beban lagi. Apa yang dia rasakan selama ini rupanya hanya sebatas bahwa Tari mengagumi cowok seperti Ardi. Tekadnya pun telah bulat bahwa semua ini bukan rasa suka atau cinta. Hanya sebatas kagum yang berlebihan.

            Keesokan paginya saat dia telah ada di depan gerbang sekolah. Terlihat muka Tari sangat ceria. Dengan senyum yang indah dia melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolahnya. Namun langkahnya diperlambat saat dia lihat Pak Tomo sedang menantinya dan…dan….akhirnya sampai jugalah dia di depan Pak Tomo. Dengan terlebih dahulu melakukan kebiasaan di sekolahnya tiap pagi, Tari pun berlalu meninggalkan Pak Tomo. Namun Tari pun heran karena Pak Tomo pagi ini memberikan senyum yang sangat lebar kepadanya.

            Seharian pun dilewati Tari dengan ceria. Hanya senyum yang dilakukannya sepanjang hari bahkan rasa sedih seakan enggan menghampirinya.

            “Ri…kita Lab. Yuk untuk internet!Ajak Rati

            “Boleh tuch.”

Mereka berdua pun menuju ke Lab. Dengan dihiasi dengan canda tawa. Dan saat dia masuk terlihat komputernya hampir penuh dan sisa 2 yang belum terpakai.

            “Kebetulan banget tuch.”ucap Rati yang langsung menuju ke komputer yang tak terpakai itu.

Tari pun melangkahkan kakinya ke computer yang satunya. Namun entah mengapa dadanya terasa sesak saat dia melihat ternyata ada Ardi di samping computer yang tak terpakai itu. Dengan berusaha meyakinkan perasaannya, Tari pun memulainya dengan mencari info di internet. Tiba-tiba dia terfikir untuk mencari informasi tentang ciri-ciri orang jatuh cinta. Dan yang membuatnya kaget semua cirri-ciri itu telah ada pada diri Tari. Tari pun langsung menutupnya karena kebetulan Ardi melirik ke computer yang dipakainya.

            Yang tak disangka Tari adalah ternyata dari tadi Rati memerhatikan apa yang dilakukan oleh Tari dan tiba-tiba

            “Kalau menurutku sich kamu benar-benar jatuh cinta sama dia.”

            “Enggak mungkin…itu gak mungkin!Ucapnya lalu meninggalkan ruangan itu dan tanpa basa-basi dia pun segera pulang ke rumahnya.

Tari pun kembali dalam lamunannya. Dan pikirannya terus mengingat apa yang dikatakan Rati tadi sore. Kalimat itu terasa tak ingin jauh-jauh di benak Tari hingga kalimat itu menjadi selimut dalam tidurnya.

            Sang fajar pun telah bangun dari tidurnya. Seperti Tari yang telah bangun dari tidurnya. Pagi-pagi dia telah mempersiapkan segalanya mulai dari peralatan sekolah sampai-sampai peralatan yang tak kalah pentingnya. Tari pun bersiap menuju ke sekolah dengan raut wajah yang tak seperti biasanya.

            “HaiRi…”Teriak Sila dengan suara yang keras

            “Hai…”Ucapnya dengan wajah yang kusam

            “Tumben hari ini kamu gak ceria. Ada sesuatu yach?” tanyanya penasaran

            “Gak ko’…gak ada apa-apa.”

Perjalanan mereka pun dari gerbang sekolah sampai ke ruang kelas bahasa inggris seakan hampa. Tidak ada canda tawa yang terjadi diantara mereka. Sesekali Sila mengajak bercanda tapi hasilnya nihil. Tak ada respon dari Tari. Hal ini menjadi tanda tanya kubik di hati Sila.

            “Eh masuk bapak udah datang” teriak seorang cowok yang berlari menuju ke ruangan bahasa inggris.

            “Good morning…!ucap pak guru

            “Morning”Balas siswa dengan serentak

Seperti biasanya dan selalunya kalau pelajaran Bahasa Inggris didahului dengan kalimat pembuka dan ekornya lagi-lagi berkenan dengan ceramah. Setelah beberapa menit berlalu. Selesai jugalah acara pembukanya.

            “Seperti kelas-kelas lainnya, saya akan menyuruh kalian membuat karangan yang berupa ‘First Love’. Untuk mempersingkat waktu lebih baik kalian membuatnya sekarang dan kalau masih ada waktu kalian dapat membacanya.”Kata Pak guru dengan nada yang kurang tegas.

Tari pun mulai mencoret-coret bukunya. Dia pun memulainya dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

“Cinta pertamaku”

Cinta pertama….mungkin aku baru merasakannya saat aku SMA. Awalnya aku ragu dan menganggap semua perasaanku kepadanya hanya sebatas kagum. Namun sehilir bergantinya waktu, aku sadar kalau aku benar suka dan cinta kepadanya. Ya…walaupun kutahu kalau perasaanku ini tak terbalas tapi biarlah itu terjadi. Yang penting aku yakin perasaanku kepadanya. Dan biarlah aku bahagia mencintainya walaupun aku tak pernah memilikinya. Biarlah perasaan cintaku terpendam erat dalam-dalam. Hanya satu kuyakini saat ini. Mencintai dia mengajak diriku menuju kedewasaan. Yach hanya itulah yang dapat kuungkapkan mengenai cinta pertamaku.

Tak disangka dan tak diduga, lagi-lagi Rati melihat apa yang ditulis Tari barusan dan saat Rati baru ingin memulai gossip barunya tiba-tiba terdengar bunyi lonceng.

            Saat menuju ke ruang biologi, Tari sengaja jalan paling belakang agar dia tidak bertemu dengan Rati yang nanti bakal mengejeknya. Lagi-lagi si Rati sengaja menghentikan langkahnya

            “ada yang udah dewasa nich.”ucap Rati yang lagi-lagi dengan raut wajah mengejek

            “Udah….udah…jangan ngebahas itu lagi..”Balas Tari

            “Tapi yang aku salut sama kamu, kamu bisa yach menahan sakit itu semua. Kalau tahu gitu aku gak bakal manggil kamu anak kecil. Tapi biarlah panggilan itu kan udah melekat dalam diri kamu. Biar aja itu menjadi ciri khas kamu dan jangan sampai gara-gara itu kepribadian kamu hilang dalam diri kamu.”

            “Benar juga kata Rati. Aku gak perlu tersinggung kalau teman-temang manggil aku anak kecil. Itu kan memang ciri khas aku. Tapi yang kudapat dari mencintai dia yach itu tadi mengajakku menuju ke kedewasaan walaupun dengan tahap yang agak lama.”Ucapnya dalam hati

Dengan rasa bahagia mereka berduapun berjalan menuju ruang Biologi.

SEKIAN.

Advertisements
Categories: Coretanku | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Butet's Planet

Lets See My Planet

Sri Wahyuningsih ^_^

Never Give Up and Ganbatte

Nurintan Sri Rahayu

Be Sincere and Make Study be fun !!!

nur chaerah

selamat datang di blog sederhana,mari berbagi....

EDUCATION BLOG

For Education WordPress.com site

%d bloggers like this: