Thanks for Everything

sweet-sayings-for-your-girlfriend

Bila yang tertulis untukku

Adalah yang terbaik untukmu

Kan kujadikan kau kenangan

Yang terindah dalam hidupku

Namun takkan mudah bagiku

Meninggalkan jejak hidupku

Yang tlah terukir abadi

Sebagai kenangan yaang terindah

Itulah lirik lagu yang selalu dinyanyikan oleh gadis yang akrab dipanggil Imma. Ia selalu teringat Mantan kekasihnya. Ia tidak menyangka kalau hubungannya akan berakhir secepat itu.  Walaupun dia berusaha melupakan mantan pacarnya itu tetapi hatinya tidak dapat berbohong kalau ternyata dia masih mencintai mantan kekasihnya.

Waktupun berlalu, tak terasa dia pun telah duduk dibangku SMA kelas XI. Namun rasa cintanya kepada mantan kekasihnya masih tetap sama sebelumnya.

***

            Gemuruh hujan dan sinar matahari yang mengintip lewat jendela membuat Imma terbangun dari tidurnya. Dia pun terlihat santai membereskan tempat tidur dan peralatan sekolahnya, padahal waktu telah menunjukkan pukul 06.30 WITA.

“Ma…Aku pergi dulu yach”Ucapnya sambil mencium tangan ibunya

Setelah beberapa menit kemudian, Imma pun  tiba di sekolahnya. Serentak ia pun berlari secepat mungkin karena pintu gerbangnya sudah mau ditutup.

Tiba-tiba seseorang mengagetkankannya dari belakang.

“Hei…”Ucap seorang cewek yang bernama Ria

“Telat juga yach!!!”Ucap Imma

“Iya Nich” Balasnya

Mereka berdua pun berjalan menuju ke ruang Bahasa Inggris. Perjalanan mereka pun dihiasi canda tawa. Maklum sajalah mereka itu kan sahabatan. Yach walaupun baru setahun ini mereka kenal tetapi mereka cukup mengerti satu sama lain.

“Imma….Ria” teriak seorang cewek yang berdiri di depan ruang  Bahasa Inggris.

“Mulut Bu!!!”Ucap Imma

Mereka bertiga pun tertawa riang gembira dan Imma pun melupakan semua kesedihannya. Wajar sajalah kalau dia terlihat tegar di depan teman-temannya karena di sekolahnya dia merupakan gadis yang cuek ke cowok dan intinya cewek yang sedikit manja.

Imma, Ria dan dan Mia adalah ketiga sahabat yang dikenal mempunyai kepribadian yang berbeda. Imma sendiri orangnya agak tomboy, cerewet, agak manja tetapi sok tegarlah padahal hatinya rapuh. Kalau Ria orangnya agak pemalu dan kadang kehilangan kontrol kalau sudah tertawa. Dan yang terakhir adalah Mia. Mia sendiri orangnya banyak bicara, banyak goyang dan tentunya PD abizz. Tetapi perbedaan itulah yang membuat mereka saling mengerti satu sama lain. Apalagi kalau Imma sedang ingat sama mantannya.. Mereka berdualah yang selalu menghibur Imma.

Bel pun berbunyi. Menandakan pergantian pelajaran. Mereka bertiga pun berjalan menuju ke ruang             Bahasa Indonesia dan tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Imma

“Kak Imma…Kak Imma.” Ucap seorang cowok dari belakang

Imma pun menoleh dan rupa-rupanya cowok yang memanggilnya itu adalah seorang adik kelas yang paling Imma benci. Bagaimana tidak, hampir setiap kali Imma bertemu dengannya, adik kelas yang dipanggil Prabu itu selalu bertingkah konyol dan senyum terus-menerus seperti orang gila. Padahal Imma paling benci sama tipe cowok yang seperti itu.

“Hmmm….Hmmmm.”Ucap Ria dan Mia

“Kalian kenapa sich berdua???Cengar-cengir sendiri. Ayo kita cepat masuk ke ruang Bindo ( Bahasa Indonesia , entar orang gila itu bertambah gila lagi.”

Imma pun segera masuk ke ruang Bindo sedangkan Ria dan Mia hanya berjalan pelan sambil tersenyum manis. Prabu ( Sang Adik Kelas) hanya bisa pasrah melihat perlakuan Kakak kelasnya itu.

“Eh….Kamu kenapa sich benci banget ama Prabu. Padahal kan dia orangnya cakep dan tentunya menjadi idaman lagi.” Bisik Mia

“Aku benci banget sama sikapnya. Kalian kan tahu aku paling benci sama orang yang seperti itu.” Balasnya

“Iya juga sich…Tapi menurutku Prabu itu hanya mau cari perhatian ke kamu aja.” Ucap Ria

“Justru itunya yang aku gak suka. Masa dari awal masuk dia udah bertingkah gitu ke aku. Apalagi kalau endingnya nanti, bisa-bisa dia udah jadi orang gila betul.”Balasnya

Mereka bertiga pun sibuk berbisik-bisik dan dengan topik yang lain-lain pula. Biasa…ada Mia kok sumber beritanya.

“Bel Udah bunyi nich.” Ucap Imma

“Yuk…kita ke kantin???”Ajak Mia

“Yuk”Ucap mereka serentak

Mereka bertiga pun langsung menuju ke kantin. Dan seperti biasanya, Mia selalu berbicara tentang Info-info terbaru. Tetapi saat ini, Mia hanya mengeluarkan info-info yang gak jelas yang intinya tentang seorang cowok yang saat ini dia kagumi. Imma dan Ria hanya hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang lagi kasmaran itu. Tiba-tiba

“Kak….Kak…tunggu sebentar!” teriak seorang cowok yang rupanya dia adalah Prabu

“Mau apalagi kamu?” Bentak Imma

“A…….aku mau bicara ama kakak. Sebentar saja.”

“Tapi masalahnya aku gak mau. Asal kamu tau aja yach. Aku tuch benci banget sama kamu dan semua tentang dirimu. Aku benci sikapmu yang so’ manis, so’ lembutlah, so’ gantenglah dihadapan cewek-cewek dan semua-semua-semuaaaaa tentang kamu. Paham!!! Jadi sekarang kamu berhenti dech ganggu aku. Soalnya aku tuch terganggu banget ama kamu dan jangan muncul di hadapan aku.”

Prabu pun pergi dengan muka yang berbeda seperti biasanya. Imma yang tanpa rasa bersalah pun melanjutkan perjalanannya ke kantin sambil menarik kedua tangan sahabatnya itu.

“Apa kamu gak terlalu kasar tuch???”Tanya Mia

“Yach enggaklah…cowok seperti itu memang pantas digituin. Biar dia nyadar”

“Tapi…Kasihan banget kan dia”Sahut Ria

“ Biarin aja.”Balas Imma

Tidak terasa dua bulan telah berlalu. Dan semenjak kejadian itu, Prabu tidak pernah lagi memanggil dan mengganggu Imma. Saat mereka bertemu, Prabu hanya menundukkan kepala. Imma pun terlihat senang dari hari ke hari.

“Gak terasa udah Bulan February yach Ri. Bentar Lagi ada yang mau traktir nieee” Ucap Mia sambil melirik Imma

“Iya yach…pokoknya aku mau puas-puasin dech kalau tanggal 22 nanti”Ucap  Ria

“Apaan sich….Gak janji yach!!!Ucap imma

Detik, menit, jam pun berlalu dan saat Imma masuk ke kelas

“Selamat ulang tahun!!!”Ucap teman-teman yang ada di dalam ruangan.

Imma pun kaget dan terharu karena semua teman—temannya masih mengingat  hari spesialnya itu.Mulai pagi sampai siang, teman-teman imma dan adik-adik kelas pun mengucapakan selamat untuknya.

“Kita ke ruang Bio yuk!!!! Barangku ada yang kelupaan.”Ucap Mia

“Yukkkk”Ucap Imma dan Ria

Mereka pun berjalan menuju ke ruang Fisika dan tiba-tiba Mia berbisik ke Imma

“Eh…Eh..menurutmu, Ryan ini cakep gak sih?”

“Cakep sich tapi aku gak suka ama dia. Abizznya dia itu orangnya cuek banget. Berstatus adik kelas lagi. Gengsi dong kagum ama adik kelas.” Ucap Imma

“Eh Neng kalau bicara tuch dijaga dikit dong…entar bisa-bisa kamu kena karma lagi. Udah cukup kamu nyakitin hati Prabu. Entar kamu lagi yang hati.”Ucap Ria sambil mempercepat langkahnya

“Ihhh…dasar Ria. Gak jelas dech!!!Jawab Mia sambil cekikikan

Dan……..

“Imma…Imma…Hepy BezDay Yach” Teriak seorang cowok dari kejauhan

Tanpa sadar Imma rupanya melihat Prabu yang dari tadi memperhatikannya. Imma pun hanya bersikap cuek dan berpura-pura tidak melihatnya. Yang penting bagi Imma, Prabu tidak lagi mengganggu dirinya.

“Cepat Bu. Bentar lagi udah mau masuk nich” teriak Ria yang udah ada di depan ruang fisika

“Iya Bu” Ucap mereka berdua

Mia pun segera mengambil barangnya yang kelupaan di laci meja, dan tiba-tiba seorang cowok yang bernama Andri datang. Mia yang melihat kedatangan Amri menjadi HERI ( Heboh Sendiri). So’ manislah, so’ imutlah dan bahkan dia berpura-pura kehilangan benda miliknya. Dia pun menanyakan hal itu kepada Andri

“Andri…Apa kamu Lihat tempat pensil yang berwarna biru di laci meja yang disana” Ucap Mia sambil menunjuk meja yang dimaksud

“Nggak Tuh…Emangnya kamu sim……”

“Eh Mi…Katanya kamu tadi…….?”Ucap Imma memotong pembicaraan Andri

“Huss” Ucap Mia dengan pelan sambil melotot ke Imma

Ria yang dari tadi dibawa setan ke dunia lain akhirnya sadar juga. Dia hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu. Bagi Ria, walaupun sahabat-sahabatnya itu sering membuatnya jengkel tetapi itulah yang membuat Ria nyaman berada disisi mereka. Tak enak rasanya kalau tidak ada kegaduhan diantara mereka.

Andri pun pergi ke kelasnya dan meninggalkan Mia yang dari tadi disambar setan cinta.

“Eh Mi….ayo kita ke kelas nihhh. Udah masuk tau!!!”Ucap Imma

“Iya…iya…”.

***

“Diharapkan bagi siswa pecinta alam agar berkumpul di aula”

Imma, Mia, dan Ria pun segera menuju ke ruang aula. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Prabu. Prabu yang melihat Imma dari kejauhan segera mempercepat langkahnya ke ruang aula.

“Baiklah….kalau semuanya sudah kumpul disini saya akan memulai rapatnya.” Ucap ketua panitia pecinta alam”

Sementara itu, Imma, Mia, dan Ria hanya berbicara dan terus berbicara tanpa memperhatikan apa yang diucapkan oleh ketua panitia pecinta alam.

“Dasar Ketua….bicara ko’ gak jelas!!!”Ucap Mia

“Benar tuch…gak jelas banget” Sahut Ria

“Ehm…Aku ko’ baru tahu kalau rupanya Ryan itu anak PA juga Yach. Aku fikir cowok secuek dia gak bakal ikut acara kayak gini.”Kata Mia

“Masa sich….???? Padahal Aku udah Lama Loh Liat dia kalau kita ngumpul”Sahut Imma

“Tapi aku kok gak Tahu yach.”Balas Mia lagi

“Itu karena kamunya yang sibuk merhatiin Andri.”Sahut Ria

“Benar juga tuch.”Balas Imma

Dan hasilnya akan diadakaan perjalanan ke tempat-tempat yang sering dikunjungi para pecinta Alam.

***

“Ya Ampun Udah Jam 07.00. Pazti Mia ama Ria udah ada di sekolah. Untung  barang-barangnya udah aku aku masukin ke tas. Sekarang tinggal mandi aja.” Ucap Imma

Beberapa waktu kemudian, Imma sudah sampai di sekolahnya

“Wow…Kerennya.”Ucap Imma dalam hati saat melihat Ryan yang menuju gerbang sekolah

Imma pun hanya terdiam saat Ryan lewat di depannya.

“Imma…”Teriak Mia dari kejauhan

“Iya….Aku segera kesana”Balasnya

Imma pun dengan segera mempercepat langkahnya…1…2….3….dan akhirnya sampai juga dia ke tempat Mia dan Ria.

“Dasar ML!!!”Ucap Mia

“Apaan Tuch ML.” Tanya Imma penasaran

“MISS  LATE tauuu!”Balasnya

“Ri…Emang apa sich yang kamu perhatiin dari tadi. Kayaknya gelisah banget.” Tanya Imma sambil melihat ke arah gerbang.

“Enggak Kok…Enggak ada apa-apa.”Balasnya

Tak lama kemudian, bus yang akan mereka tumpangi pun datang. Satu persatu diantara mereka naik ke atas bus. Imma pun naik ke atas bus  dan bangku yang kosong hanya disamping Ria, Imma pun dengan segera menuju ke tempat Ria yang berada agak di belakang. Saat Imma sedang menuju ke arah Ria, Tanpa sengaja dia melihat seorang cewek yang memegang pundak Ryan. Entah mengapa Imma agak sedikit aneh dengan hal itu tetapi dia malah mengabaikan perasaannya itu. sementara itu Mia duduk dengan Andri yang berada paling depan.

Entah mengapa hati Imma saat itu terasa tercabik-cabik melihat kejadian itu.Entah mengapa ada perasaan yang lain yang ia rasakan. Namun karena Imma tipe cewek yang cuek, dia menganggap hal itu biasa-biasa aja.

Selang beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan

“Cepat-cepat turun, entar sore lagi” Ucap seorang guru

Semua siswa-siswi pun turun dari mobil. Sementara Itu Imma dan Ria turun belakangan. Pak guru pun menyuruh mereka untuk segera membangun tenda masing-masing. Imma, Mia dan Ria pun mendirikan tenda mereka dengan perasaan yang senang. Tiba-tiba Andri datang menghampiri Mia, ia menawarkan bantuan kepada mereka. Tanpa basa-basi Mia pun menerima tawaran Andri. Imma dan Ria yang melihat kejadian itu malah menghindar dan menghentikan pendirian tenda. Rupanya Mia dan Andri tidak menyadari hal itu, mereka malah asyik berbincang sambil mendirikan tenda. Beberapa waktu kemudian, pendirian tenda itu pun berakhir. Imma dan Ria pun segera datang menghamppiri mereka berdua.

“Mia…Aku pergi dulu Yach”Ucap Andri

“Ya….Good Bye”Kata Mia sambil melambaikan tangan

Melihat temannya bersikap kayak orang gila, Imma dan Ria pun datang menghampiri temannya  dan mereka malah asyik menyindir Mia. Mia yang lagi kerasukan setan cinta malah menganggaap itu biasa-biasa aja. Namanya aja orang kasmaran.

Malamnya pun tiba, ketiga sahabat itu belum juga disambar malaikat. Mereka tak henti-hentinya mengoceh dan terus mengoceh. Apalagi saat semua anggota PA disuruh kumpul, mereka hanya asyik bergosip dan bergosip. Untungnya saja hal ini dilihat oleh ketua PA. Jadi, ketiga sahabat itu disuruh berjauhan saat acara api unggun. Dalam suasana yang seperti itulah Imma tak henti-hentinya memerhatikan Ryan. Entah apa gerangan yang membuatnya seperti itu.

Semenjak acara itu, di sekolah, di rumah bahkan dimanapun Imma tak henti-hentinya memikirkan Ryan.

***

“Mia….Mia…Tungguin aku dong! Teriak seorang cewek yang tak lain adalah Imma

Mia pun berhenti saat mendengar teriakan Imma. Namun matanya melirik ke ruang Pendidikan Agama Islam. Dia melihat sesosok cowok yang sedang melamun. Rupanya dia adalah Prabu. Namun pandangan Mia seakan menyadarkan Prabu kalau dirinya telah diperhatikan oleh sepasang mata yang tajam. Dia pun bergegas ke luar dari ruangan itu. Namun, takdir berkata lain. Rupanya Prabu harus bertemu dengan cewek yang berusaha dia hindari selama ini. Dan pertemuan itu pun terjadi. Imma yang baru tiba dengan muka yang bercucuran keringat tiba-tiba kaget saat melihat Prabu di hadapannya. Prabu yang sadar diri bahwa dirinya sangat dibenci oleh kakak kelasnya pergi dengan muka pasrah. Namun, sebelum kepergiannya, senyum manisnya sempat ia berikan kepada kakak kelasnya yang bernama Imma itu. Imma hanya diam melihat tingkahnya itu. Begitu pula dengan Mia yang ada di tempat itu.

Namun tak disangaka, kepergian Prabu malah membawa kebahagiaan buat Imma. Rupa-rupanya setelah kepergian Prabu, sosok cowok yang telah menghantui pikiran Imma selama ini telah hadir di depannya. Yach…Ryan. dari kejauhan sudah bisa ditebak kalau arahnya akan menuju ke Imma dan Mia. Mia yang belum tahu akan perasaan sahabat dekatnya itu tiba-tiba memanggil Ryan.  Dan…

“Ada apa kak?”Ucap Ryan dengan penasaran

“Eh…Kamu punya FD yang 8G toch..Bisa pinjamin aku gak??? Soalnya aku mau copy  sesuatu nich.”Ucapnya Mia dengan penuh harap sambil melirik ke arah Imma

“Iya ada kak…Kebetulan ada di tas aku. Aku ambilin dulu yach kak”Balas Ryan

“Oh…Kalau gitu kami ikut aja ke kelas kamu yach!!!Ucap Mia

“Ok kak”Balas Ryan dengan serentak

Mereka bertiga pun berjalan menuju ke kelas Ryan. Imma yang tak kuasa menahan perasaannya akhirnya memperlambat langkahnya. Mia yang belum sadar akan perasaan temannya ke Ryan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah temannya itu. Dan akhirnya pun mereka tiba di depan kelas Ryan.

“Kakak Tunggu disini aja yach. Biar aku ambilin dulu di tas”Ucap Ryan

“Iya…Iya…Tapi yang cepat yach. Temanku disana kayak orang gila tuch” Balas Mia sambil menunjuk ke arah Imma

“Beres kak”Balasnya lagi sambil tersenyum geli ke arah Imma dan masuk ke dalam kelasnya

Imma yang dari tadi bertingkah aneh bagai tersambar setan cinta tersadar saat dirinya telah ada di hadapan Mia.

“Ada apa Neng…Tumben gak seperti biasa?Tanya Mia

“Nggak apa-apa ko!”Jawab Imma denga muka yang lesu

“Kamu sakit yach?”Tanyanya lagi sambil meletakkan tangannya ke jidad Imma

Dan

“Ini kak Fdnya” Ucap seorang cowok dari dalam kelas yang rupanya adalah Ryan

“Ko’ Lama banget sich…Tapi Thanks yach”

Imma yang melihat kedatangan Ryan hanya menundukkan kepala. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia takut melakukan sesuatu yang bakal membuatnya malu dihadapan Ryan. Jadi, dia hanya diam melihat pembicaraan dua orang yang spesial dihatinya. Pantas sajalah kalau mereka berdua dikatakan spesial, yang satu adalah sahabat Imma dan yang satu lagi adalah cowok yang membuat Imma melupakan mantannya yang dia pikir tidak akan bisa melupakan mantannya itu sampai akhir hayatnya. Dan tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan Imma

“Eh Udah ngelamunnya”Kata Mia ke Imma

“Oh udah ada yach Fdnya” Kata Imma

“Dari tadi kaleee neng”Ucap Mia dengan nada menyindir

“Ayo kalau gitu…kita ke kantin!!! Perutku udah lapar banget Nich.”Ucap Mia sambil melirik ke Ryan.

Mendengar ucapan Imma, Ryan tiba-tiba

“Oh…kalau gitu kita bareng-bareng aja yach kak. Kebetulan juga lapeeer banger nich” Ucapnya sambil memegang perutnya

“Ayo…kalau gitu”Ajak Mia dengan penuh semangat

Namun Imma kembali melamun lagi dan

“Ayo kak…kita ke kantin.” Ucap Ryan ke Imma sambil menarik tangannya

Imma yang tidak sadar kalau yang menariknya adalah Ryan hanya bagai robot yang baterainya hampir habis. Dan saat Imma mulai sadar, entah mengapa tangan Ryan melepas tangan Imma yang dari tadi dia pegangnya. Imma yang bagai baterainya telas diisi penuh, kembali berbicara dan bersenda gurau dengan Mia.        Imma seakan-akan melupakan Ryan yang dari tadi berjalan di belakangnya.

“Aku mau makan bakso nich, Kalau kamu Mi?” Ucap Imma

“Kalau aku sich mie ayam aja. Kalau kamu Yan?”Tanya Mia ke Ryan. Dan saat itu Imma baru sadar ternyata ada Ryan di belakangnya. Ia pun langsung membalikkan badan dan mereka pun saling berhadapan. Imma yang menyadari akan situasi seperti ini dengan cepat membalikkan badannya. Namun mau diapa, Ryan telah menyadari sikap Imma yang seperti itu.

“Yuk kita pesan sekarang aja yach!”Ucap Imma sambil menarik tangan Ryan

Ryan pun ikut dengan Imma dengan langkah kaki yang agak cepat. Dan

“Mbak…Bakso dan mie ayam nya satu yach?”Ucap Imma sambil melirik ke……

Dan….

“Ko’ kamu??? Mianya Mana???”Ucap Imma dengan nada yang agak tinggi

“Kamu kan yang narik tangan aku dari tadi. Itu Mianya disana.” Ucap Ryan sambil menunjuk Mia

“Tapi…ko’ kamu gak bilang sich kalau aku narik tangan kamu”Ucap Imma lagi

“Yach…kirain aku kamu niatnya mau narik tangan aku. Jadi aku ngikut aja.”Ucap Ryan dengan agak sedikit gombal

“Ihhh…GR banget sich kamu jadi orang”Ucap Imma kesal

Suasana pun menjadi hening diantara mereka. Namun suasana itu berubah saat Mia datang

“Aduhh…Mia. Maaf yach aku ninggalin kamu. Kirain yang aku tarik tangannya itu adalah tangan kamu. Sekali lagi maaf yach.”Ucap Imma dengan muka penuh harap

“Iya…gak apa-apa ko’. Itukan biasa terjadi. Iya kan Yan?”Kata Mia

“Iya…kak”Ucap Ryan balik.

Mereka pun makan secara bersama. Namun Ryan semakin yakin kalau Imma mempunyai rasa ke dia saat Mia menawarkan diri agar Imma duduk disamping Ryan. Namun Imma malah marah. Untungnya Mia pandai membuat temannya tertawa. Suasana pun berubah seperti biasanya. Namun, di saat Imma tengah asyik makan, Ryan malah mengambil kesempatan untuk mencuri pandang dan membuatnya tambah yakin tentang pendapatnya itu.

***

            Dalam suasana yang hampa, ditambah dengan redupnya lampu. Terlihat seorang gadis remaja yang tengah memikirkan sesuatu. Yach itulah Imma. Dengan berbalut pakaian tidurnya yang bercorak bunga-bunga.

“Aduh…mengapa hari niee sial banget sich. Ko’ aku bisa bertingkah aneh seperti itu yach dihadapan Ryan. Apalagi sampai salah narik segala lagi. Aduh…sial banget sich hari ini. Malah dia nanggepin balik lagi. Uhh…malu bangeeeet. Apa dia udah tahu yach tentang perasaan aku. Gawat banget kalau gitu. Mau ditaruh dimana muka aku. Besok…aku gak mau ke skul dulu ah. Tapi….bisa-bisa dia malah berfikir aku malah sengaja ngehindarin dia. Bisa tambah hancur dech kalau gitu.”Pikirnya dalam hati

Tiba-tiba dering Hp mengagetkan Imma dalam lamunannya dan

“Yach…Ada apa Mi?”

“Eh Imma…Jujur aja dech ke aku kalau…”

“Kalau apa…”Tanya Imma penasaran

“Kalau kamu suka ke Ryan.”

Tiba-tiba Imma terdiam. Jantungnya terasa mau copot. Dia tidak menyangka kalau Mia bisa mengetahuinya secepat itu.

“Itu kan…Kamu diam. Kalau gitu Benar kan???Tanya Mia Lagi

“Gak…ah…Siapa Bilang.”

“Jangan Bohong dech kamu Im. Aku ini sahabat kamu. Kalau hal kayak gini gampang banget ditebaknya. Apalagi kalau cuma mau nebak kamu.”

“Iya Mi…Aku suka ama Ryan.”

“Itu kan benar kecurigaan aku. Emang sejak kapan sich Im.”

“Aku juga gak tahu…tapi aku udah ngerasain hal yang berbeda saat pergi

Hiking.”
“Udah lama juga yach…Tapi kalau menurutku Ryan pazti udah tahu dech. Abiztnya sikap kamu di sekolahan tadi aneh banget.”

“Masa sich Mi? Apa seaneh gitu tingkah laku aku? Tanya Imma penasaran

“Yach Iyalah Im. Aku aja baru nyadar di sekolahan tadi. Apalagi Ryan. Pazti udah tahu  banget dech.”

“Yach mau diapain lagi. Biarin aja lah Mi.”Ucap Imma pasrah

“Baiklah kalau gitu. Udah dulu yach. Eh jangan jadi beban!!!”

“Iya..iya.”

Pembicaraan mereka pun terhenti. Imma pun terdiam sesaat memikirkan perkataan Mia barusan. Namun rasa ngantuknya yang sangat besar membuatnya terjatuh dalam mimpi yang indah.

Keesokan harinya….

“Ri….ri…tungguin aku dong!”Teriak seorang cewek dari pintu gerbang sekolah

“Oh kamu Im”Ucap Ria

“Kamu  kenapa kemarin…ko’ gak hadir sich?”

“Oh…kemarin. aku pergi ngantarin ibu aku ke bandara.”

“Oh gitu yach.”Ucap Imma dengan menggoda

Mereka berdua pun berjalan layaknya sepasang kekasih yang saling melengkapi. Ria yang dari tadi mengoceh tentang pengalamannya kemarin saat mengantarkan ibunya ke bandara tiba-tiba kaget saat seorang cewek mengagetkannya dari belakang. Cewek itu tak lain adalah Mia. Mereka bertiga pun berjalan bersama-sama menuju ruang kelas mereka.

Bel pun berbunyi….dan

“Masuk…masuk….Pak Umo udah datang.”Teriak cowok yang tak lain adalah ketua kelas mereka

Barisan pun menjadi lebih tertib dan teratur. Para siswa-siswi seolah-olah sibuk membaca dan mengerjakan tugas.

“Eh Mi…Pak Ifi kemana yach? Ko’ gak hadir sich…Lihat tuch sekarang…malah Pak Umo yang datang.Gawat kan” Ucap Imma ke Mia

Dan tiba-tiba….

“Irmayani…Apa yang kamu kerjakan disitu? Kamu itu….Saya kan sudah sering bilang kalau sebagai siswa yang berprestasi, harus pintar mengatur waktu, bukan malah pintar bergosip. Sekarang…Pungut semua sampah yang berserakan di lapangan.”Ucap Pak Umo dengan nada yang tinggi sambil menunjuk ke luar lapangan

“Iya Pak.”Balas Imma dengan suara yang gugup

Imma pun memungut sampah yang berserakan di lapangan. Satu persatu ia pungut dan pekerjaannya terhenti saat ia melihat Ryan tengah lewat di hadapannya. Dengan sikap yang so’ cool, cuek dan memasang wajah yang bengis Ryan lewat begitu saja tanpa mengeluarkan perkataan  sepatah kata pun. Jangankan menoleh, kepala Ryan bagai ditimpa besi yang tidak dapat memalingkan wajahnya. Imma yang berada disitu hanya kesal melihat tindakan Ryan.

“Dasar cowok…!!! Emang napa sich kalau aku suka ama kamu. Apa itu salah??? Aku juga gak mau suka sama kamu tapi rasa ini muncul dan mengalir begitu saja. Jadi jangan ngehindarin aku dong. Sakit Tahu rasanya.”Ucap Imma dalam hati

Imma yang tersadar dari lamunannya kini melanjutkan hukumannya dari Pak Umo. Dan tiba-tiba saja lapangan  di kejauhan sana yang tadinya kotor kini telah menjadi bersih. Imma pun tidak terlalu memperdulikan hal itu. Yang dia tahu saat ini, hukuman Pak Umo telah berakhir dan yang tertinggal di hatinya saat ini yaitu kekecewaan dan kekesalan yang terdalam klepada Ryan.

Imma pun bergegas masuk ke dalam kelasnya. Dia segera menceritakan kejadian itu kepada kedua sahabatnya itu. Ria yang baru mengetahui perasaan temannya itu hanya dapat menganggukkan kepala sedangkan Mia malah bertingkah sebaliknya. Ia menyarankan agar Imma sesegera mungkin berusaha menghapus perasaannya itu. Imma pun menanggapi dengan hal yang sama. Ia yakin perasaannya itu bisa dia lupakan dan semua rasa yang dia alami saat ini hanya berupa kekaguman yang berlebihan.

Istirahat pun tiba

“Eh Im…aku punya gossip baru lho….tentang Prabu gitu”Ucap Mia pada Imma

“Ihhhh…ngapain sich ngungkit-ngungkit soal anak itu…gak mau ahhhh.”Ucap Imma

“Eh emang Prabu kenapa?Ucap Ria

“Ihhh kalian kenapa sich ngebahas anak itu. Plizz Dech. Jangan yach!!!” Ucap Imma memohon

“Gak pa…pa. Im. Niee gosip saat ini lagi tenar. Kamu tahu kan kalo Prabu itu banyak yang suka di sekolahan kita. Jadi wajar-wajar ajalah n nyantai aja!!!” Balas Mia

“Iya…iya…”Ucap Imma kesal

“Dengar-dengar niee yach…Prabu itu jadian ama anak SMA lain. Katanya sich namanya Indri. Dan dengar-dengar juga niee yehhh…tuch gadis cantik banget.” Ucap Mia sambil melirik ke Imma

“Truzzz…Urusannya Apa ama aku” Kata Imma

“Yach gak…Cuma pengen cerita aja.” Jawab Mia

***

                     “Lentera Kecil”

            Dalam Ruang yang kosong

Hampa dan tak berpenghuni

Berbalut kesepian berpanjangan

Di balik lubang yang kecil

Ada harapan yang tak berujung

Bagai Lentera kecil

Berbungkus cahaya yang tiada pasti

Akankah dapat menjadi penerang

Walau dengan cahaya yang redup

Atau hanya

Padam ditelan waktu

Entah mengapa jemari tangan Imma menulis sepenggal puisi itu. Hatinya dapat dilihat dengan makna puisi yang ditulisnya itu. Dirinya sadar kalau selama ini dia benar suka sama Ryan. Namun rasa kesalnya juga tak bisa dia tahan kepada Ryan. Dia beranggapan mengapa Ryan begitu tega berbuat itu kepadanya. Padahal Suka itu kan hak setiap umat manusia.

Di tengah lamunannya itu, ia teringat akan Prabu Revolusi. Yach Prabu. Sang adik kelas yang sangat dibenci oleh Imma.

“Kenapa yach aku begitu tega ke Prabu. Padahal dia kan gak salah. Suka itu kan hak semua orang. Tapi kenapa aku malah membenci dia, hanya saja dia bertingkah aneh padaku. Padahal kalau difikir-fikir dia itu orangnya baik, tapi kenapa yach aku gak bisa suka ama dia…..Oh yaa Ampun. Kenapa aku mikirin dia sich. Apa semua ini karena dosa-dosaku yang begitu banyak ke dia. Yach Allah…maafin aku selama ini. Aku udah banyak dosa.”Gumamnya dalam hati

Keesokan harinya….

“Hai Im.”Ucap Mia

“Hai Juga.”

Melihat tingkah Imma yang seperti itu, Mia menjadi heran. Entah apa yang ada dibenak sahabatnya itu. Ia berniat menanyakannya langsung tapi dia tidak tegak melihat kondisi temannya yang begitu lesu.

“Hai kak!!!”Ucap seorang cowok sambil melirik ke arah Imma

“Hai Yan…Ada apa???”Tanya Mia

Mendengar suara Ryan, Imma yang dari tadi menundukkan kepalanya, secara perlahan-lahan berusaha melihat sosok Ryan. Namun…pandangan mata pun terjadi. Ryan dan Imma berusaha menghindari kejadian barusan.

“Gini kak’…Apa kakak udah gak pake FD aku lagi. Soalnya ada tugas yang harus kumpul nich.”

“Oh iya….”Ucap Mia sambil memeriksa bagian tasnya

“Ini…”Ucap Mia balik

”Makasih Kak.”Ucap Ryan sambil pergi meninggakan Mia

Mia yana sadar akan kondisi temannya itu pun dengan segera menghibur Imma yang dari tadi terdiam. Imma pun tak ingin mengecewakan temannya itu. Ia berusaha menutupi akan perasaannya itu dan menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal kenyataannya saat ini. Hatinya bagai diiris sembilu melihat tingkah Ryan yang semakin hari malah mencampakkan dirinya itu.

Sehilir bergantinya waktu, detik, menit dan jam maka berakhir pulalah masa-masa Imma dan sahabatnya di kelas XI dan di mulailah masa yang baru. Yakni masa-masa kelas XII.

Gemuruh risih dari balik jendela kamar Imma menandakan akan turunnya hujan. Imma yang sudah siap berangkat ke sekolah tiba-tiba mengambil sweaternya yang berwarna biru dari gantungan lemarinya. Tanpa basa-basi, Imma pun segera berpamitan kepada kedua orang tuanya dan dengan segera ia pun langsung bersiap untuk ke sekolah.

Beberapa menit kemudian

“Imma…”Teriak Mia dan Ria dari ujung koridor

Imma yang mendengar teriakan kedua sahabatnya itu hanya bisa memberikan senyuman yang tipis dari bibir manisnya. Langkahnya terasa berat saat ia melihat Ryan sedang menghampiri Ria dan Mia yang dari tadi menunggunya.

“Hai kak…Gimana liburnya.”Ucap Ryan ke Mia dan Ria

“Yach gitu dech.”Ucap Mia dengan senang

Imma pun tiba dihadapan mereka bertiga.

“Ri…Mi…Aku duluan yach ke Kelas.” Ucap Imma tanpa menoleh ke arah mereka

Ria dan Mia yang melihat tingkah sahabatnya yang aneh itu bergegas meninggalkan Ryan yang terdiam di tempatnya. Entah apa yang difikirkan cowok itu. Namun semua keanehan tentang cowok itu tidak ada pentingnya dibandingkan sikap aneh yang ditunjukkan Imma barusan. Mia pun langsung menyambar Imma dan memberitahukan khabar gembira kepada Imma bahwa dirinya telah jadian dengan Andri. Imma pun  terdiam sejenak mendengarnya. Namun ia sadar bahwa kediamannya dapat membuat teman-temannya ikut bersedih. Dia pun langsung berubah 180o. Imma langsung memeluk Mia dan memberikan ucapan selamat.

***

Istirahat pun tiba….

“Mi…Ri…Aku pergi dulu yach…ada urusan penting nieeeh”Ucap Imma sambil memberikan senyum yang lebar.

Imma pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu. Langkahnya menuju ujung koridor yang ada di sekolahnya. Tanpa basa-bassi Imma pun duduk dan menyandarkan kepalanya di tiang. Tanpa sadar, air matanya bercucuran. Di suasana yang seperti itu, sepasang mata yang tajam tengah asyik memperhatikan Imma. Rupanya pemilik mata yang tajam itu adalah Prabu Revolusi. Yach sang adik kelas. Hati Prabu terasa sakit melihat kakak kelasnya itu. Ia berusaha menahan rasa sakit itu, namun  melihat air mata kakak kelasnya hatinya makin tercabik-cabik. Dia pun memberanikan dirinya untuk menghampiri kakak kelasnya itu.

1…..2….3….Dan akhirnya Prabu sudah ada di samping Imma

Imma seakan tidak menyadari kehadiran Prabu sampai-sampai saat Prabu duduk di sebelahnya dia pun tak menyadarinya.

Tiba-tiba….

“Hai kak….Maaf ganggu.” Ucap Prabu Pelan

Mendengar suara Prabu, Imma dengan segera menghapus air mata di pipinya itu

“Oh kamu Prabu. Ada apa????” Ucap Imma dengan sedikit terisak-isak

“Nggak ada apa-apa kak.” Balas Prabu

“Oh….Oh yach…aku minta maaf yach soal kejadian yang kemarin. Maaf yach!!!” Ucap Imma

Waktu seakan berhenti saat Prabu mendengar kata-kata yang diucapkan Imma barusan. Dia tidak menyangka hal ini akan terjadi

“Oh yang itu kak…gak usah difikirin. Aku gak ambil hati ko’.” Ucap Prabu memberi semangat

“Makasih yach……Kamu tuch baik banget. Aku nyesel pernah benci ama kamu. Tapi makasih yach.”

“Makasih untuk apa yach kak?” Tanya Prabu dengan penasaran

“Makasih untuk segalanya. Makasih untuk kebaikan kamu. Makasih karena kamu bisa memafkan aku dan makasih karena kamu udah buat aku tersenyum. Aku pergi dulu yach” Ucap Imma sambil melambaikan tangan

Ada sesuatu yang dulunya mengganjal di hati Imma. Namun kini sesuatu itu telah pergi bersamaan dengan senyum yang keluar dari bibirnya. Entah mengapa Prabu membawa kedamaian dari dalam dirinya. Dirinya yang dulu dipenuhi beban kini telah segar kembali. Beban itu seakan keluar seiring jatuhnya air mata di pipinya.

***

            Hari pun berlalu begitu saja. Entah mengapa antara Prabu dan Imma telah terjalin keakrabatan. Sahabat-sahaabat Imma pun semakin senang melihat mereka dapat akrab. Dan Imma pun jarang lagi membahas masalah Ryan kepada sahabat-sahabatnya itu.

“Uh dingin banget sich.” Ucap Imma saat berjalan di koridor sekolahan

Saat Imma berusaha merangkul badannya sendiri, tiba-tiba mata Imma tertuju pada seorang cowok yang memberikan jaketnya kepada cewek di sebelahnya. Air mata Imma pun tiba-tiba menetes melihat apa yang terjadi barusan. Dengan langkah yang berat sambil terisak-isak, Imma pun berlari sekencang mungkin dan rupanya tangis Imma diketahui oleh sepasang cowok dan cewek itu.

Cewek itu pun langsung mengejar Imma dan

“Im…dengarin aku dulu. Semua yang kamu lihat barusan itu tidak disengaja. Aku dan Ryan hanya….” Ucap cewek itu sambil menghapus air matanya yang jatuh.

“Pacaran….ia kan…Ria.” Bentak Imma dengan keras

“Tapi itu semua di luar kendali aku. Awalnya aku udah PDKT ama Ryan. Tapi saat kau cerita kalau kamu suka ama Ryan aku pun mundur. Aku berusaha menjauhinya tapi dia malah semakin mengejar aku. Saat aku katakan kalau kamu menyukainya dia pun sempat terdiam dan mengatakan kalau kamu itu mirip kakaknya yang telah meninggal setahun yang lalu. Canda kamu. Tingkah kamu bahkan muka kamu hampir mirip dengan kakak yang sangat disayanginya. Untuk itu, saat dia tahu kalau kamu menyukainya dia berusaha menghindar. Dia tidak ingin rasa sayangnya kamu sebagai kakak membuat hubungan kalian bisa terganggu. Untuk itu Im…Tolong maafin aku. Aku gak bermaksud bohongin kamu. Aku….a…aku hanya tidak ingin membuatmu tambah terluka.” Ucap Ria

Imma pun langsung terdiam mendengar perkataan Ria barusan

“Tapi…aku telah terluka Ri.” Bentak Imma sambil berlari meninggalkan Ria.

***

Di bawah pohon yang besar terlihat seorang gadis yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Yach gadis itu adalah Imma. Tempat itu merupakan tempat kesukaan Imma untuk mengeluarkan semua beban di hatinya.

Ternyata dan ternyata…ada sepasang mata yang memerhatikan Imma dari tadi. Siapa lagi kalau bukan Sang Adik Kelas. Rupa-rupanya Prabu telah mengetahui betul tempat yang benar-benar Imma sukai saat Imma sedang sedih. Waktu pun membuat Prabu tidak dapat menahan apa yang menjadi beban di pikirannya. Dengan segera, ia menghampiri kakak kelasnya itu.

“Hai kak…” Ucap Prabu pelan

Imma pun dengan segera mengpus air matanya itu saat mendengar suara Prabu.

“Kamu kenapa bisa ada disini.” Tanya Imma pelan

“Aku akan ada dimana pun kakak lagi sedih.” Ucap Prabu tegas

Imma hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Prabu itu

“Oh yach…gimana hubungan kamu dengan pacar kamu?” Tanya imma dengan berusaha menghilangkan raut sedih di wajahnya

“Oh…Indri. Aku udah putus ama dia…..(sambil menghela nafas).”

Kalau kakak gak keberatan…ceritain aja semua beban yang ada pundak kakak. Insya Allah aku akan bantu sebisa aku.” Ucap Prabu membujuk

“Emang Beban apa sich” Tanya Imma dengan pura-pura tidak mengerti

“Kakak jangan Bohong. Jujur aja sama aku kak.” Balas Prabu

Tanpa sadar air mata Imma pun bercucuran kembali. Dengan air mata di pipinya, Imma pun menceritakan semua beban yang ada di pundaknya selama ini. Dan tanpa sadar, kepalanya ia sandarkan di pundak Prabu.

***

            Entah mengapa sejak kejadian itu, hubungan Prabu dan Imma semakin akrab. Prabu pun lebih sering mengantar Imma pulang. Hubungan Mia dan Andri pun semakin mesra dari ke hari. Namun ada satu masalah yang belum terselesaikan yakni masalah Imma dengan Ria. Setiap kali Mia menanyakan ada apa antara Imma dengan Ria, Imma hanya diam dan begitupun sebaliknya pada Ria.

Saat bel istirahat berbunyi…..

“Im…Ri..aku pergi duluan yach ke kantin.” Ucap Mia sambil meninggalkan Imma dan Ria.

Selang beberapa menit kemudian, hanya ada Imma dan Ria di dalam kelas. Tiba-tiba…..

“Ri…aku minta maaf yach ama kamu. Aku ini memang egois selama ini. Aku hanya mikirin perasan aku aja. Aku tidak pernah memikirkan perasaan kamu. Aku sadar kalau selama ini kamu berusaha buat tidak nyakitin aku. Maafin aku Ri. Aku baru sadar semua kesalahan aku itu. Dan sekarang aku udah bisa ngehilangin perasaan aku ke Ryan. Dan sekarang kamu dan Ryan bisa pacaran secara terbuka lagi tanpa harus ngumpet-ngumpet di belakang aku. Ok Ri.” Ucap Imma sambil memberikan senyum yang sangat lebar.

Mendengar perkataan Imma barusan, Ria tiba-tiba memeluk Imma dan tanpa sadar dirinya meneteskan air mata.

“Cuup…Cuup..Jangan nangis atuh neng Aku ini kan memang orang baik.” Ucap Imma

“Dasar kamu. Ucap Ria kesal

“He…he…” Balas Imma

Hubungan Imma dan Ria pun kembali seperti biasanya. Seperti sahabat yang dulu dan ditambah dengan Mia. Yach walaupun diantara mereka hanya Imma yang tidak memiliki pacar, namun kedua sahabatnya itu tetap memilih untuk meluangkan waktu bersama para sahabatnya.

Waktu pun berlalu. Entah mengapa Imma dan Prabu kian hari semakin akrab. Saat Imma sedih Prabu selalu ada untuk Imma dan begitupun sebaliknya. Saat Prabu dilanda masalah Imma selalu ada untuk membantu dan memberi saran dan semangat untuk Prabu.

“Imma…Imma.” Terdengar suara seorang cewek dari balik pintu rumah Imma

Dan….

“Hei… Apa khabar? Lama banget baru datang kemari?” Tanya Imma

“Yach begitulah…Im…Aku pengen curhat nich ama kamu.” Ucap cewek itu

“Yuk…Ceritanya di kamar aku yach.” Balas Imma sambil menarik tangan gadis itu ke kamarnya.

Tanpa sungkan-sungkan gadis itu pun masuk ke kamar Imma dan mereka pun langsung duduk di kasur Imma

“Im…aku harus gimana nich? Aku tuch saat ini benar-benar gak tahu harus buat gimana lagi.” Tanya cewek itu sambil mengeluarkan air matanya

“Emang kamu napa sich?” Tanya Imma

“A…aku gak bisa lupain mantan aku. Entah kenapa aku masih tetap memikirkan dia. Rasa-rasanya hidupku takkan berarti tanpa dirinya. A…aku sangat sayang ama dia.” Ucap cewek itu

“Jadi???” Tanya Imma penasaran

“Aku mau kamu bantuin aku buat jadian lagi ama dia.” Balas cewek itu

“Ko’ kamu nyuruh aku sich. Emang aku kenal mantan kamu itu?” Tanya Imma penasaran

“Kalau menurutku sich iya…soalnya dia itu satu sekolahan ama kamu. Tapi dia itu satu tahun di bawa kita.”Ucapnya lagi

“Oh jadi ceritanya brondong nich.” Ucap Immma so’ ngejek

“Aku ini serius Im.” Balas cewek itu lagi

“Iya…iya…Emang siapa sich nama cowok itu.”

”Prabu Revolusi.” Ucap cewek itu dengan tegas

Tiba-tiba detak jantung Imma terasa berhenti. Darahnya pun  terasa tidak mengalir lagi. Entah mengapa nama itu terasa mengoyak hatinya. Sebuah nama yang selama ini menghiasi hari-harinya. Sebuah nama yang selalu ada untuknya dikala dia sedih maupun senang. Sebuah nama yang saat ini mulai merasuk ke dalam jiwanya dan sebuah nama yang sangat berarti untuknya.

“Ko’ kamu diam??? Kamu mau bantuin aku kan….kamu kan sahabat aku paling baik.” Bujuk cewek itu.

“Iya…iya…aku pasti bantuin kamu.” Ucap Imma

Semenjak kejadian malam itu, Imma pun tak henti-hentinya memikirkan apa yang dikatakan oleh cewek itu. Sesekali dia berusaha melupakan kejadian malam itu. Namun dia tidak bisa karena cewek itu adalah teman baik Imma dari kecil. Mereka tumbuh secara bersama-sama dan mereka pun satu sekolahan baik dari TK maupun SMP. Akhirnya, Imma pun bertekad untuk menepati janjinya itu.

Saat bertemu Prabu, dia berusaha menghindar. Prabu dan kedua sahabat Imma pun menjadi sangat heran. Mia dan Ria pun menasehati tindakan Imma itu tapi Imma hanya tersenyum geli mendengarnya.

Dan…..

“Kak…Tunggu bentar. Aku mau bicara ama kakak.” Teriak Prabu sambil berlari

Mendengar suara Prabu, Imma langsung mempercepat langkah kakinya itu. Namun hasilnya nihil, Prabu dengan segera menggemgam erat tangan Imma

“Kak…kenapa sich kakak menghindar dari aku. Asal kakak tahu yach…hati aku sakit banget.” Ucap Prabu

“Maaf….Aku harus melakukan ini. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.” Balas Imma yang tanpa sadar mengeluarkan air mata

”Tapi…kenapa harus kayak gini. Aku gak bisa menahannya kalau kayak gini truzz. Coba…kasi aku alasan yang pasti.” Desak Prabu yang kini menggemgam erat kedua tangan Imma

“Gak bisa.” Ucap Imma pelan

“Tapi…kalau kayak gini kamu berarti hanya ingin mainin perasaan aku aja.” Ucap Prabu

“Siapa bilang aku mainin kamu. A…a….ku juga….” Ucap Imma

“A…aku apa..Bilang Im…bilang.” Desak Prabu

“Aku sayang kamu.” Ucap Imma

“Tapi mengapa…mengapa kamu berbuat kayak gini. Untuk apa sayang kalau jadinya hanya seperti ini.” Ucap Prabu lagi

“Karena kamu mantan Indri.” Gertak Imma

“Apa….?”

“Iya….karena kamu mantan Indri dan sampai sekarang dia itu gak bisa lupain kamu. Dia itu sangat sayang ama kamu. Jadi plizz..tolong kamu kembali lagi ama dia.” Ucap Imma sambil menghapus air matanya

“Tapi….tapi aku gak pernah sayang ama dia. Aku hanya sayang ama kamu seorang.” Ucap Prabu yang tanpa sadar matanya telah berlinangan air mata

“Kalau kamu sayang ama aku…maka kamu balikan ama dia.” Desak Imma

“Ta…tapi itu gak mungkin. Mana mungkin aku ngejalanin hubungan tanpa ada rasa sedikit pun. Seharusnya kamu tahu itu.” Ucap Prabu

“Aku tahu itu….tapi aku gak bisa. Indri itu sahabat aku dari kecil dan kita saling menjaga dan menghargai satu sama lain. Jadi…seharusnya kamu mengerti itu.” Balas Imma

“Baiklah…kalau begitu aku turutin apa maumu. Tapi aku lakuin ini karena semata-mata aku hanya sayang ama kamu.” Balas Prabu dengan pelan

Imma hanya bisa meneteskan air mata saat mendengar Prabu berkata seperti itu. Dan mungkin menurut Imma inilah jalan yang terbaik untuknya. Namun, sebelum Prabu meninggalkan Imma, ia sempat mencium jidad Imma dan memberikan senyum yang sangat indah ke Imma.

Malam pun tiba….

“Hei Im..Gi ngapain aku malam-malam gini.” Ucap seorang cewek dari balik Hp

‘Aku lagi belajar nich…emang ada apa yach??? Tanya Imma

“Nggak…aku Cuma pengen ngasih kabar ke kamu kalau Prabu ngajak aku balikan.” Ucap cewek itu lagi.

Tanpa sadar Imma pun meneteskan air matanya

“Selamat yach…aku turut bahagia. Oh yach udah dulu nich soalnya aku ulangan besok.” Kata Imma

Imma hanya bisa tersenyum tipis mendengar kabar dari temannya itu. Namun jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam, hatinya terasa tercabik-cabik akan suatu hal.

***

Imma pun mulai menjalani hari-harinya seperti biasa. “No boy in my life”. Itulah slogan yang selalu dipegang teguh oleh Imma saat ini. Yang dia tahu saat ini hanya memfokuskan diri untuk menghadapi UAN dan UAS. Namun sesekali ia kembali teringat dengan Prabu Revolusi. Sebuah nama yang sangat berarti untuknya. Tetapi semangat juangnya untuk fokus menghadapi UAN dan UASnya jauh lebih besar sehingga kerinduan itu hanya sesaat dirasakannya.

“Halo…Im. kamu dimana sekarang?” tanya seorang cewek dari seberang telepon

“Aku di rumah. Emang ada apa Mia.” Tanya Imma penasaran

“Nggak…aku cuma mau ngajakin kamu malam mingguan aja. Habisnya aku perhatiin kamu selama kini udah jarang banget keluarnya.” Ujar Mia

“Bukannya gitu Mi..aku hanya pengen fokus aja ama UAN dan UAS.”

Ucap Imma

“Astaga Im…masih lama kaleee. Ini juga baru bulan November.”

“Nggak dech Mi…aku males keluar mingguan.” Balas Imma

Dan pembicaraan mereka pun terputus dan Imma segera langsung membuka kembali bukunya itu.

Waktu pun berlalu. Tak terasa tahun 2009 pun berakhir. Tahun yang dimana bagi Imma tersimpan berjuta kenangan.

Entah mengapa tak ada berita lagi tentang Prabu. Imma pun tak pernah melihatnya lagi. Kerinduan yang berat membuat Imma memberanikan diri menanyakan hal ini kepada teman-teman sekelas Prabu dan rupa-rupanya Prabu telah pindah sebulan lalu. Imma pun menyesali sikapnya selama ini kepada Prabu. Imma tidak menyangka kalau kesibukannya selama ini membuatnya tidak mengetahui hal yang sangat penting ini.

Dan saat tiba rumah, dengan segera Imma langsung menelpon Indri

“Halo Ndri…Inik kamu kan! Ucapnya tergesa-gesa

“Iya ini aku…napa Im” Tanya Indri

‘Kok kamu gak ngasih tahu aku kalau Prabu itu udah pindah.” Tanya Imma

“Yach kirain…kamu udah tahu. Kamu kan satu sekolahan.” Balas Indri

Mendengar ucapan Indri, Imma langsung memutuskan pembicaraan mereka. Yang dibenak Imma saat ini hanya ada kebingungan dan kegelisahan

Dan….

Calling…

            Private Number

Terlihat dar Hp Imma. Imma pun berfikir-fikir untuk mengangkat telepon itu. Akhirnya…..

“Halo…Bisa bicara dengan saudari Irmayani.” Tanya seorang cewek dari seberang telepon

“Iya…saya sendiri. Maaf…ini dengan siapa yach?”Tanya Imma pelan

“Maaf mengganggu sebelumnya. Saya ini kakaknya Prabu Revolusi.” Ucapnya suara cewek itu lagi

Dan Imma pun kembali terdiam. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan ditelpon oleh kakak Prabu.

“Halo…kok adik terdiam?” Ucap suara cewek itu

“Maaf…maaf…Oh yach kak ada apa yach dan kalau boleh apa saya bisa bicara dengan Prabu? Tanya Imma balik

Dan sesaat setelah Imma menanyakan hal itu, terdengar tangisan memilukan hati dari seberang telepon itu.

“Ada apa kak? Ko’ kakak nangis.?” Tanya Imma lagi

“Pra…prabu Im..” Ucapnya terisak-isak

“A….ada apa dengan prabu kak.” Tanya Imma dengan suara gelisah

“Pra…Pra….bu meninggal karena kecelakaan dan sekarang kami sedang ada di pemakamannya.” Ucap cewek itu

Imma pun tak bisa menahan kesedihannya lagi. Dunia seakan mau kiamat. Sesekali dia berteriak dan kemudian menangis kembali. Dia tidak menyangka Prabu akan pergi secepat itu. Cukup dengan Prabu tidak memberitahunya saat dia pindah dan mengapa sekarang Prabu pergi untuk selamanya. Rasa-rasanya Imma tak punya harapan untuk hidup lagi.

Dan tanpa dia sadari, Mia dan Ria datang tiba-tiba dan memeluk Imma.

“Im…jangan sedih yach…Relakan kepergian Prabu.” Ucap Mia sambil menahan tangis

Imma langsung menghapus air matanya dan

“Dari mana kamu tahu kalau….”

“Ada seorang cewek yang menelpon Mia. Katanya dia kakaknya Prabu.” Sahut Ria

Mereka bertiga pun saling berpelukan. Untungnya saat kondisi seperti ini, ada Mia dan Ria yang mendukung Immaa dari belakang hingga Imma dapat melepaskan kesedihannya itu.

Dan hari itu pun berlalu begitu saja. Memori 22 Januari 2010. Itulah sebuah kalimat yang diberikan Imma untuk mengenang kepergian Prabu

Waktu pun berlalu begitu saja. Sesekali Imma meneteskan air mata saat mengingat kenangannya bersama Prabu dulu. Tapi itu hanya sebuah kenangan dan takkan pernah kembali lagi. Biarlah kenangan itu tersimpan erat di hati Imma.

Dan…

“Selamat Ulang tahun.” Teriak teman-teman sekelas Imma saat dia memasuki kelas

Imma pun terharu melihat semua itu. Rupa-rupanya teman-temannya masih mengingat hari yang spesial untuk dirinya. Namun di hari itu ada yang lain bagi Imma. Entah mengapa semua teman-temannya mentraktir Imma. Mulai dari harga yang agak murah sampai dengan sampai dengan harga yang mahal.

Setibanya di rumah….

“Ma…aku pulang.” Teriak Imma sambil melangkah masuk ke kamarnya

Dan…Imma melihat sebuah kado bersampul biru berada di meja belajarnya. Karena herannya, ia pun menanyakan hal ini kepada ibunya. Dan ibunya menjawab kalau kado itu pemberian seorang cewek yang sangat cantik dan ia juga berpesan kalau kado itu hanya dapat dibuka oleh saudari Irmayani yang tak lain adalah Imma sendiri.

Tanpa sungkan-sungkan Imma pun membuka kado yang sangat besar itu. Didalamnya terdapat 3 jenis benda. Benda yang satunya berupa cincin yang sangat indah yang beruliskan nama Imma sendiri.  Benda kedua berupa kalung yang jauh lebih indah yang berhiaskan tanda hati. Dan di hiasan hati itu terukir “I & P”.

Dan benda yang terakhir yakni sebuah buku diary yang agak sedikit usang. Namun sebelum membuka diary itu, Imma melihat sebuah kertas yang bertuliskan

                                Untuk Saudari Irmayani

Maaf kalau kado ini dapat menganggu suasana hati adik. Tapi semua  barang- barang ini adalah hak adik untuk memilikinya.

untuk itu, saya jauh-jauh datang dari Bandung hanya untuk mengantarkan ini. mohon diterima. (kakak Prabu Revolusi)

Imma pun tanpa sadar meneteskan air mata. dengan perlahan Ia membuka sampul  diary itu dan dilembar pertama bertuliskan

16 Juli 2008

       Mungkin ini sesuatu hal yang tidak lazim dilakukan bagi anak cowok seumuran aku. yach apalagi kalau bukan menulis sebuah buku harian. tapi ini sudah niatnya saat aku masuk di SMA. Bagiku masa-masa di SMA itu adalah sebuah masa yang perlu diabadikan. Dan 20 halaman akan mewakili semua apa yang kuanggap paling berharga dan sangat penting dalam hidupuku untuk diabadikan.

 

                                                                                                Prabu Revolusi

Halaman ke-2

19 Juli 2008

           Ini ada hari terakhir diadakannya MOS di sekolahku yang baru. tapi entah mengapa tak ada satu pun yang membuatku semangat untuk menjalani sekolah baruku ini. aku sempat berfikir untuk pindah sekolah, tapi aku berusaha mengurungkan niatku itu. karena orang tuaku sangat bangga aku masuk di sekolah ini and I LOVE THEM.

 

Halaman ke-3

21 Juli 2008

     Ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah dengan memakai seragam putih abu-abu. aku pun mengikuti upacara bersama dengan kakak-kakak kelasku yang baru. namun diantara mereka, aku menyukai kakak yang memiliki mata yang sangat indah. sepasang mata yang dapat membawa kedamaian untukku.

 

Halaman ke-4

29 Juli 2008

     Aku sangat BT banget hari ini. entah mengapa semua teman sekelasku berusaha untuk menggodaku. Padahal aku sangat tidak menyukai hal seperti itu. Untungnya saja saat aku sedang duduk di koridor sekolahan, aku melihat kakak yang memiliki sepasang mata yang indah. Rasa kesalku tiba-tiba saja hilang melihat kakak itu

 

Halaman ke-5

31 Juli 2008

Aku berusaha mengenal kakak itu. aku coba mendekatinya. bersikap bukan diriku yang sesungguhnya. so’ imut, so’ ganteng daan yang pastinya bukan aku banget. tapi semuanya tidak sesuai yang kuhrapkan. kakak itu rupanya tidak menyukai hal yang kulakukan. Namun walaupun seperti itu, aku tetap bahagia karena hari ini aku udah mengetahui kakak yang memiliki mata yang indah itu. namanya kakak “IRMAYANI”. dan dipanggil dengan “Kak Imma”.

 

Halaman ke-6

28 September 2008

     Hatiku benar-benar bingung saat ini. aku gak tahu lagi bagaimana caranya menarik hati Kak Imma. Semua yang kulakukan selama ini dimatanya salah. Padahal aku begitu kan hanya untuk menarik simpatinya.

Halaman ke-7

28 Oktober 2008           Aku sangat sedih hari ini karena saat aku memanggil Kak Imma di depan ruang Bindo, dia malah mengacuhkan diriku. sempat kudengar dari mulutnya yang menyebutku dengan orang gila. Sakit…..Tapi mau diapa lagi. mungkin di matanya aku udah sangat hina.

     Ditambah lagi saat jam istirahat, aku yang berusaha mendekati Kak Imma malah mendapat cacian yang luar biasa. Air mataku sempat ingin jatuh saat Kak Imma bilang kalau dia tidak ingin melihatku lagi.

Halaman ke-8

21 Januari 2009

       Aku senang banget hari ini soalnya aku tahu kapan hari spesialnya K’ Imma. Yach “22 Februari”. karena senangnya, aku pun pergi memesan cincin yang bertuliskan nama nama K’ Imma sendiri. Uhh senangnya. jadi tak sabar aku memberikan hadiah ini.

Halaman ke-9

                                                                                          22 Februari 2009

       Aku takut memberikan cincin ini ke K’ Imma. Tapi aku sempat melihat seorang cowok memberikan ucapan kepada K’ Imma. Dan menurutku, disaat aku tengah memperhatikannya, K’ Imma melihatku tapi dia berpura-pura aja karena rasa bencinya ke aku.

Halaman ke-10

16 April 2009

       Aku takut bertemu dengan K’ Imma. aku takut kalau dia semakin membenci aku. apalagi saat aku mau ke aula, aku sempat melihatnya berada diujung jalan sana. aku pun mempercepat langkahku agar aku tak bertemu dengannya lagi.

Halaman ke-11

28 Mei 2009

       Hari ini aku sangat malu banget. aku sempat bertatapan mata dengan K’ Imma. Untungnya aku sadar diri sehingga aku pun dengan segera meninggalkan K’ Imma dengan temannya yang bernama Mia itu.

Halaman ke-12

29 Mei 2009

       Hari ini aku nembak cewek. Namanya Indri. Niat aku sich biar aku gak kebayang terus ama K’ Imma.

Halaman ke-13

16 Juli 2009

       Hari ini lucu banget…masa tadi aku lihat K’ Imma dihukum. Namun aku sempat heran saat melihat K’ Imma bertingkah kayak orang gila saat Ryan lewat di depannya. Aku yang tak tega melihat K’ Imma menjalani hukumannya berbuat sesuatu. aku membersihkan semua sampah yang berserakan di lapangan yang letakknya di ujung sementara itu K’ Imma masih sibuk dengan ocehannya. Untungnya saat K’ Imma sadar, Lapangan yang diujung itu pun udah bersih sehingga dia tidak melihat aku membantuinya

Halaman ke-14

                                                                                          31 Juli 2009

       Aku gak tega melihat K’ Imma menangis terus-menerus. aku sadar kalau ragaku sebagian telah ada untuknya. aku sadar kalau aku benar mencintai dan menyayanginya. hatiku terasa tercabik-cabik melihatnya seperti itu. Dia tak seceria dulu lagi. Aku pun memberanikan diri untuk mendekatinya. dan ternyata dia malah membalas apa yang aku lontarkan kepadanya. senangnya hatiku apalagi dia minta maaf kepadaku. sungguh suatu hal yang luar biasa dalam hatiku.

Halaman ke-15

1 Agustus 2009

       Hari ini aku memutuskan Indri soalnya aku benar-benar gak ada perasaan sama dia. aku sadar kalo cinta dan sayangku hanya untuk K’ Imma seorang.

Halaman ke-16

8 Agustus 2009

       Aku benar-benar rapuh melihat K’ Imma seperti itu. dengan tekad yang bulad, kuberanikan diriku sekali lagi untuk mendekatinya. dan diiluar dugaan. dia menceritakan semua apa yang menjadi bebannya selama ini dan mengenai masalah Ryan aku sempat cemburu karena itu. Namun Aku berusaha yakin aku pasti bisa membuat K’ Imma dapat mencintaiku dengan setulus hatinya. dan yang membuatku tambah yakin, K’ Imma menyandarkan kepalanya di pundakku. Uhh…senangnya

Halaman ke-17

24 Agustus 2009

       Aku benar-benar heran melihat sikap K’ Imma yang seperti itu. entah mengapa dia terus menjauhiku.

Halaman ke-18

29 Agustus 2009

       Aku benar-benar tak tahan melihat tingkah K’ Imma yang menghindariku. aku pun menanyakannya langsung ke dia. dan yang membuatku tak percaya ternyata dia sahabatan sama Indri dan ujung-ujungnya dia menyuruhku balikan dengan Indri. Aku sempat menolak hal itu. Tapi saat kudengar dia benar-benar sayang sama aku, aku pun tidak tega melihatnya yang dipenuhi dengan air mata. Aku pun menuruti apa yang diinginkannya. Walaupun sakit, tapi aku bahagia bisa mendengar kata-kata itu dari mulutnya. Kalimat yang menngungkapkan dia menyayangiku.

Aku pun sangat menyayangimu K’ Imma. Dan aku akan balikan dengan Indri. Tapi semata-mata hanya untuk kamu,. I LOVE YOU SO MUCH K’ IMMA

Halaman ke 19

28 November 2009

       Sudah 2 bulan lebih aku balikan dengan Indri. Aku sudah tak tahan dengan perasaanku ini. Untuk itu aku memutuskan untuk pindah sekolah dan merahasiakannya dari K’ Imma.

Maaf K’ Imma. Bukan niaatku untuk melupakanmu tapi aku benar-benar tak bisa mengendalikan rasa cintaku yang sangat dalam untukmu. untuk itu, aku yakin kalau aku tidak melihatmu lagi aku akan dapat melupakanmu

Halaman ke-20

                                                                                          20 Januari 2010

       Sudah sebulan lebih aku pindah tapi entah mengapa aku belum bisa melupakan K’ Imma. Aku sadar mungkin ini yang dinamakan Cinta Mati. Maaf K’ Imma…aku pernah berusaha melupakanmu. Tapi kini aku sadar engkaulah satu-satunya cintaku baik itu dahulu, sekarang maupun di masa akan datang dan cinta ini akan kubawa sampai aku mati.

Dan hari ini aku belikan kalung berhiaskan hati untuk kamu K’ Immaa. di dalamnya terukir singkaatan nama kita masing-masing. Aku berharap kakak akan memakai kalung itu untukku. Walaupun ultah kakak masih jauh, tapi aku sudah membelikan kado untuk kakak. Aku takut aku gak bisa memberikan kado untuk kakak.

Mungkin juga ini ulisan terakhir yang kutulis dalam diary ini.

Dan benar kataku sebelumnya. masa-masa yang paling indah adalah masa-masa di SMA karena disitulah aku dapat mengenal kakak dan mngetahui arti cinta yang sesungguhnya.

Terima kasih K’ Imma atas segalanya…

                                                                        PRABU REVOLUSI

Setelah membaca diary itu, Imma tak tahu lagi apa yang dirasakannya saat ini. dia tidak menyangka kalau Prabu benar-benar menyayanginya selama ini. Imma pun kemudian menutup diary itu dan berkata

“Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena darimu aku bisa menjadi diriku kembali. Yang kulakukan kepadamu selama ini tak ada artinya dibandingkan dengan apa yang kamu berikan untukku.” Ucap Imma dalam hati

Imma pun langsung memakai cincin dan kalung itu. Imma pun segera bercermin dan berkata

‘Aku akan menjadikanmu kenangan yang paling indah di sepanjang perjalanan hidupku.” Ucap Imma dengan tersenyum manis sambil memegang kalung itu.

Advertisements
Categories: Coretanku | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Butet's Planet

Lets See My Planet

Sri Wahyuningsih ^_^

Never Give Up and Ganbatte

Nurintan Sri Rahayu

Be Sincere and Make Study be fun !!!

nur chaerah

selamat datang di blog sederhana,mari berbagi....

EDUCATION BLOG

For Education WordPress.com site

%d bloggers like this: