Kerang-kerang Laut

Image

Kembali ke Masa Lalu
Masa dimana saya mulai belajar peduli terhadap seseorang
Masa dimana saya mulai belajar menangis untuk seseorang
Dan Masa dimana saya mulai belajar tentang arti kepahitan hidup
Tepatnya Masa Sekolah Dasar (Kelas V)

***

2 Bulan Sebelum Bulan Ramadhan

              Hari itu…seperti biasa saya selalu bermain di depan rumah. Terik matahari tidak menjadi penghalang untuk bermain. Yang terpancar dari wajah hanya aura kesenangan semata.
Dari kejauhan terlihat sosok perempuan tua dengan membawa ember kecil yang berisikan kerang-kerang laut. Perempuan tua itu sangat kurus dan menggunakan baju tahun 70an.
Perempuan tua itu sudah tidak asing lagi buat saya. Hampir setiap minggu saya melihatnya. Perempuan itu dikenal dengan nama Nenek Sifa. Yaaa…dengan nama itulah saya juga memanggilnya.

            Senyum lebar terlihat dari wajah Nenek Sifa saat melihat saya. Entah mengapa setiap dia melihat saya, dia selau saja tersenyum. Mungkin hal itulah yang membuat saya untuk menyuruh Mama untuk selalu membeli kerang-kerang laut miliknya.

Dan….Nenek Sifa pun telah tiba di depan rumah saya

              Tanpa basa-basi saya pun langsung meminta mama untuk membeli kerang-kerang laut milik Nenek Sifa.

Dan Lagi…Kerang-kerang laut milik Nenek Sifa habis terjual ^_^

 

Pertengahan Bulan Ramdhan

              Matahari seakan tersenyum lebar kepada bumi hari ini. Pancaran senyumnya sungguh membuat dahaga terasa kering.

Dari kejauhan Nenek Sifa sudah terlihat. Seperti biasa  Saya pun langsung meminta Mama untuk membeli kerang-kerang laut miliknya. Tetapi ternyata, Kerang-kerang Laut masih ada yang tersimpan rapi di dalam kulkas.

              Dengan perasaan agak sedih. Saya berjalan perlahan dan memberitahu Nenek Sifa bahwa hari ini Mama tidak membeli kerang-kerang laut miliknya

Sempat kulirik wajah Nenek Sifa.

KECEWA…mungkin kata itulah yang dapat menggambarkan raut wajah Nenek Sifa.
Perlahan dia pergi dengan memberikan sebuah senyuman

              Melihat wajah Nenek Sifa yang seperti itu, hatiku pun merasa gelisah. Ada tersirat kekecewaan dalam senyumannya.

“Apa yang harus saya lakukan. Mengapa wajah Nenek Sifa seperti itu. Hhhhmmmm…..Perasaan uang buku yang diberikan Mama masih ada. Uang itu  bisa saya berikan kepada Nenek Sifa dan untuk uang bukunya, saya dapat menyisihkan uang jajan untuk menggantinya” Gumam dalam hati

Dengan segera saya menyusul Nenek Sifa.

Dan berhasil…Nenek Sifa masih dapat saya jangkau
Dengan perasaan bahagia, saya perlahan berjalan ke rumah. Walaupun  tadinya Nenek Sifa sempat   menolak tapi akhirnya Nenek Sifa mau menerimanya juga.

Dan akhirnya…Saya dapat melihat lagi senyum bahagia Nenek Sifa  ^_^

 

Beberapa Bulan Kemudian

              Nama Nenek Sifa ternyata telah diketahui oleh teman-teman sekelas saya. Oleh karena itu, saya dan teman sekelas mengusulkan kepada wali kelas kami untuk memberikan sumbangan kepada Nenek Sifa. Yaaa walaupun tidak seberapa nilainya

Dan akhirnya…

              Tibalah saat saya dan teman sekelas untuk pergi ke rumah Sifa. Beberapa Liter beras, Mie dan telur telah dibawa oleh teman kelas saya.

Kami kesana berjalan kaki karena rupa-rupanya Rumah Nenek Sifa tidak terlalu jauh dari sekolah saya.

Dan…

              Terlihat gubuk yang kecil. Beratapkan daun kelapa yang dikeringkan dan dinding yang telah rapuh yang terbuat dari anyaman bambu-bambu kering.

Saya, teman-teman dan guru pun memberitahu Nenek Sifa tentang kedatangan kami. Serentak terpancar sinar bahagia dari wajah Nenek Sifa.

              Namun, ada kejadian yang begitu menyedihkan. Saat Nenek Sifa menceritakan tentang sedikit coretan hidupnya.

Tentang Nenek Sifa yang selalu meneteskan air mata saat malam hari.

Tentang Nenek Sifa yang tinggal di gubuk hanya dengan seekor kucing dan Tentang Nenek Sifa yang selalu makan setiap dua harinya hanya dengan satu bungkus mie.

Agar suasana tidak kaku dan terbawa suasana, beberapa teman saya membuat lelucon-lelucon kecil. Hal ini tentu membuat goresan senyuman pada setiap orang sehingga tidak ada lagi air mata. Yang ada hanya senyuman kebahagiaan

***

            Hari itu merupakan hari pertama dan terakhir saya mengunjungi Nenek Sifa.

Namun seperti biasanya, kerang-kerang kecil Nenek Sifa masih selalu dibeli oleh Mama. Tetapi… Entah mengapa Nenek Sifa sudah jarang terlihat menjual kerang-kerang laut miliknya. Mungkin dalam seminggu hanya sekitar dua kali dan bahkan dalam seminggu itu pun Nenek Sifa pernah tidak terlihat.

              Hal seperti itu berlangsung sampai saya Kelas VI Sekolah Dasar

Namun saat saya ke jenjang yang lebih tinggi lagi yakni Sekolah Menengah Pertama, Nenek Sifa tidak pernah terlihat lagi.

  Suatu hari saya berkunjung ke rumahnya itu, Namun ternyata….
Gubuk itu telah tiada

Pernah saya dengar bahwa ternyata Anak Nenek Sifa mengajaknya untuk tinggal bersamanya.
Selebihnya, tentang keberadaan Nenek Sifa saya benar-benar tidak mengetahuinya.

Sekarang…tidak ada lagi Nenek Sifa yang selalu lewat depan rumah saya

Sekarang…tidak ada lagi senyuman dari Nenek Sifa

Dan Sekarang….Tidak ada lagi kerang-kerang Laut dari Nenek Sifa

Nenek Sifa menghilang begitu saja
Tanpa meninggalkan sepatah kata pun
dan kerang-kerang Laut Miliknya
Hanya sebatas saksi bisu

Advertisements
Categories: Coretanku | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Butet's Planet

Lets See My Planet

Sri Wahyuningsih ^_^

Never Give Up and Ganbatte

Nurintan Sri Rahayu

Be Sincere and Make Study be fun !!!

nur chaerah

selamat datang di blog sederhana,mari berbagi....

EDUCATION BLOG

For Education WordPress.com site

%d bloggers like this: